Asian Games Dan Kebijakan Anies Yang Bikin Gemes

- Sabtu, Februari 10, 2018
 Hasil gambar untuk anies pkl tanah abang

Infoteratas.com - Semrawutnya Ibukota DKI Jakarta sepertinya makin ke depan akan semakin menjadi-jadi. Melalui berbagai kebijakan yang katanya untuk masyarakat kecil namun tidak mendidik, kekumuhan dihadirkan oleh Anies Baswedan.

Lihat saja, mulai dari diijinkannya PKL Tanah Abang untuk berjualan di jalan raya yang kemudian diikuti oleh PKL-PKL ditempat lain seperti di Asemka dan Jalan Jend Sudirman, belum lagi menghidupkan kembali becak padahal payung hukumnya pun belum ada alias belum dibuat hingga saat ini.

Dari kepolisian maupun dishub bukannya tidak pernah meminta si gubernur untuk merevisi kebijakan yang salah tersebut, sudah pernah, namun bukannya melaksanakan, si Gubernur malah terlihat masa bodoh dan tidak peduli.

Apa tujuannya coba?. Bila benar-benar mau menata PKL, kenapa harus menutup keseluruhan jalan?. Katanya mikirin PKL, kenapa tidak mikirin hak pejalan kaki dan kendaraan bermotor, yang justru merupakan tujuan sesungguhnya kenapa jalan raya itu dibuat?. Kebijakannya itu malah bikin iri PKL lain untuk ikut-ikutan menuntut perlakuan yang sama seperti PKl Tanah Abang. Padahal bila mau ditata, adalah dengan menyediakan tempat yang layak untuk mereka berjualan tanpa harus menutup jalan, itu baru disebut dengan penataan.

Bila dikatakan mereka tidak kepikiran sampai kesitu, juga jelas mustahil, wong dua-duanya lulusan luar negeri. Belum lagi mereka dibantu oleh 73 anggota TGUPP, masa sih diantara 73 tersebut tidak ada orang yang cukup cerdas untuk memberikan saran atau masukan?, bila tidak bisa memberikan masukan atau saran, apa gunanya mengumpulkan 73 orang itu?.

Jelas kebijakan yang gagap dan terkesan ngawur tersebut bukanlah kebijakan yang tidak disengaja dan disebabkan ketidakmengertian. Terlalu jelas terbaca kepura-pura bodohannya. Bila demikian, apa sih tujuan sebenarnya?

Bila menurut Beberapa artikel yang pernah saya baca mengatakan ini adalah pencitraan oleh si gubernur untuk modal pilpres 2019 nanti. Bagi masyarakat di luar daerah yang tidak mengetahui kondisi Jakarta yang sebenarnya, akan menangkap kesan bahwa si gubernur benar-benar membela masyarakat kecil melalui tindakan yang seakan-akan pro masyarakat kecil tersebut, padahal tidak demikian kejadian yang sebenarnya.

Menurut saya pendapat tersebut cukup masuk akal. Namun ada 1 hal lagi yang luput kita perhatikan, yaitu Asian Games. Pembaca tentu bingung, apa hubungannya dengan Asian Games?. Baiklah akan saya coba jelaskan melalui paragrap berikutnya dibawah ini.

Seperti yang kita ketahui, Venue Asian Games salah satu pesta olahraga paling bergengsi di dunia setelah Olimpiade, dan venue tersebut akan dilaksanakan di dua kota yaitu Jakarta dan Palembang, dari tanggal 18 Agustus 2018 sampai 2 September 2018. Saat itu seluruh perhatian dunia akan terarah ke Indonesia, khususnya Palembang dan Jakarta.

Apa jadinya bila para kontestan tersebut dalam kunjungannya ke Kota Jakarta melihat penataan kota yang kacau balau?. Sampah yang berserakan dimana-mana, para PKL menawarkan dagangannya diberbagai sudut kota, belum lagi becak yang berseliweran berebut jalan dengan kendaraan bermotor lainnya hingga menimbulkan kemacetan, tentu bukanlah cerita yang kita inginkan untuk mereka bawa pulang ke negaranya masing-masing.

Apalagi di salah satu cabang olahraga, yaitu lari marathon, peserta akan lari dengan jarak 42 km dengan rute yang telah ditentukan, salah satunya melewati Jalan Jenderal Sudirman. Bagaimana peserta mau lari dengan baik bila di tengah rute, mereka dicegat oleh PKL yang menawarkan dagangannya.

Wakilnya si gubernur, yaitu Sandiaga Uno di salah satu media, berharap ajang Asian Games dapat menjadi ajang promosi Jakarta di mata internasional. Tapi bila tidak segera dirapikan, apanya yang mau dipromosiin? Kekumuhannya? Kemacetannya? Atau PKLnya?.

Alih-alih mengangkat citra kota Jakarta sebagai kota yang rapi, bersih dan tertata dengan baik, malah akhirnya mempermalukan kota Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, termasuk juga mempermalukan Presiden Jokowi, akibat kebijakan ngawur si gubernur dan wakilnya.

Padahal seperti yang kita ketahui, pemerintah pusat yang dikomandoi oleh Presiden Joko Widodo sendiri saat ini sedang giat-giatnya mengangkat citra Indonesia di mata internasional, terbukti dengan peresmian stadium sepakbola berkelas internasional GBK, peresmian Istora Senayan serta renovasi Velodrome berkelas dunia, termasuk penyelesaian MRT dan LRT sebelum Asian Games mulai.

Jadi saya rasa, sudah waktunya si gubernur dan wakilnya mengakhiri dagelan kebijakan yang tidak lucu tersebut. Saat awal mungkin masyarakat masih bisa tertawa terbahak-bahak, namun makin kesini, masyarakat makin muak.(robin.indovoices.com)
Advertisement
 

Start typing and press Enter to search